Kamis, 23 Juni 2016

Jum'at, 24 Juni 2014

Semalam sangat menyenangkan. Buka puasa bersama sahabat-sahabat angkatan 2009 SMA N 1 Bukit Sundi. Menyenangkan deh pokoknya...
dan... setelah sekitar 6 tahun aku dan lelaki ini tidak pernah berkomuikasi langsung bahkan hampir tidak pernah bertemu, cieee ada yang ketemu mantan :D

Senin, 20 Juni 2016

Selasa, 21 Juni 2016

Sahabatku, waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB, namun mata semalam belum juga berpejam. Waktu semalam itu saja sudah mampu menorehkan banyak kisah, banyak cerita. Ada air mata. Ada cerita-cerita baru. Ada cerita lama yang menyelinap ingin menjadi masa depan. Ada seseorang yang telah kukecewakan. Sebaliknya, seorang yang lain malah merasa mengecewakanku karna situasinya.

Ini hidup. Kadang kala hubungan terbina dari jalinan seperti kakak dan adik, namun menyimpan rasa indah lainnya di hati satu sama lain. Di sisi yang lain dengan orang yang berbeda, hubungan terbina selayaknya sepasang kekasih namun rasa yang ada di hati adalah kakak dan adik. Kedua kisah itu berbeda. Hanya saja sudah tertuntaskan dalam waktu bersamaan, sejak dini hari hingga sirine imsa' dan adzan subuh berkumandang.

Keduanya pergi dari hidup nyataku. Sekalipun hati dan mulut masing-masing kukuh akan tetap menjaga silaturrahmi yang sudah terjalin, namun barangkali akan sulit. Kami semua sudah saling meminta maaf dan memaafkan. Berharap segalanya akan baik-baik saja. Kuharap semua memang berjalan demikian.

Kalian tahu sahabat? Sejak hubungan-hubungan diperjelas dan diluruskan, perasaan jadi semakin rumit. Rindu-rindu membuncah. Tapi inshaallah ini hanya sampai kita terbiasa. Aku percayakan kepada para hati yang sedang berkecamuk juga kepada hati yang telah menjalani kisah dengan hati yang lain. Semoga kita berbahagia. :)

Minggu, 19 Juni 2016

Senin, 20 Juni 2016

Jalan buntu seolah menghalangi petualangan indah. Aku kebingungan sendiri karena tidak ada mesin waktu Doraemon untuk kembali. Sekarang harus bagaimana? Aku tidak ingin pasrah. Aku tetap ingin berjuang demi cita-cita dan cinta. Demi sebuah masa depan.
Hari ini limit terakhirku untuk mencari cahaya periode pertama. Aku begitu gamang. Takut mengecewakan orang yang mempercayai.

Pernahkah kalian merasa begini, sahabatku?

Kamis, 16 Juni 2016

Jum'at, 17 Juni 2016

Dini hari ini aku terjaga. Mengurai tangis tanpa air mata, tanpa suara. Jalan buntukah ini? Entah.
Sekarang siapa yang dapat menolong? Aku tak melihat cahaya-cahaya yang kucari. Namun aku senantiasa berdo'a, cahaya Tuhan akan menghantarkanku pada indah yang sesungguhnya. Pada cahaya yang akan menyelamatkan.

Senin, 13 Juni 2016

Selasa, 14 Juni 2016

Sejak beberapa waktu, baru hari ini ada kesempatan untuk menulis lagi. Perjalananku mencari titik-titik cahaya belum juga usai. Ia seperti fatamorgana, dapat kulihat tapi hilang ketika kuhampiri. Barangkali dia adalah kaki langit, yang seberapa jauh usahaku mendekati jarak kami tetap saja sama.

Seperti beberapa kali pernah kukatakan, sungguh aku ingin pulang. Pada damai, pada bahagia.

Kamis, 09 Juni 2016

Kamis, 09 Juni 2016

Selamat malam, sahabat.
Semoga kita semua senantiasa di dalam lindungan yang Maha Kuasa.

Selasa kemarin sehabis berbuka aku dan beberapa saudara mengantarkan seorang kakak ipar ke Darmasraya. Darmasraya adalah daerah perkebunan dan beberapa waktu lalu, istri sepupuku itu diterima sebagai guru PNS di sana.

Perjalanan malam menghantarkanku pada tidur yang tidak nyenyak di mobil. meskipun begitu aku menikmatinya. Di rumah saudaraku itu, aku menemukan sebaris susuan buku terpajang di etalase kamar. Sebagai pencinta novel, jelas saja aku tertarik mendekati deretan buku yang rata-rata novel itu.

Sepanjang malam aku begadang demi membaca sebuah novel yang akhirnya menjadi pilihanku. tak kunjung selesai, aku minta izin untuk membawanya pulang ke Muaro Paneh, tempat tinggalku.
Dari daerah sawit itu ke tempat tinggalku menempuh 4 jam perjalanan. belum lagi kami terjebak macet karena ada jalan yang rusak. Selama perjalanan itu juga kulanjutkan membaca novel karya 'Dee' berjudul Partikel (buku keempat dari serial Supernova).

Cerita yang kubaca di buku itu sungguh menakjubkan. Bagaimana bisa merangkai cerita sedemikian rupa? jujur aku iri, tapi aku ingin punya kreativitas menulis lebih baik juga. Sayangnya, sampai hari ini masih tertinggal beberapa halaman yang belum kubaca. Jadi penasaran kelanjutannya bagaimana. :) Aku lanjut baca dulu ya sahabat, sampai jumpa besok.
-----

Oop, sampai lupa. Kemarin malam yang indah, apa kalian juga melihat langit yang sama?

Selasa, 07 Juni 2016

Selasa, 07 Juni 2016

Selamat sore, sahabat.
Selama bulan ramadhan ini, selain meningkatkan ibadah, aku ingin menyelesaikan tulisan-tulisanku yang terbengkalai. Menuntaskan Novel kedua berjudul 'Perempuan yang Patah Hati (Riwayat Sang Ibu)' dan mengejar target untuk buku-buku biografi. Sembari itu, aku juga akan disibukkan dengan pengajuan judul skripsi. (ini baru namanya lelah yang menyenangkan :))

Berbeda dengan novel karanganku sebelumnya 'Kutinggal Kau dalam Tahajud' yang penuh dengan romansa anak muda, novel Perempuan yang Parah Hati insyaallah akan mengisahkan perjalan seorang perempuan luar biasa yang kusebut 'Ibu'. Dalam buku ini akan dikisahkan bagaimana perempuan tangguh itu bertahan, mendekap, lalu berjuang demi manusia-manusia yang berada di bawah ketiaknya. Sementara biografi yang kutulis, akan mendeskripsikan risalah seorang tokoh. Mohon maaf belum bisa dishare. :)

Harapanku, semoga pembaca dapat menerima dan menyukai karya-karyaku.

-----

Tentang cahaya yang belakangan kucari, belum juga terlihat jelas. Terkadang ia hanya seperti harapan. Mengulurkan tangan, namun ketika akan kusambut tangan itu seolah urung. Kadang kecewa, tapi apapula yang harus dikecewakan? Bukankah aku yang lebih dulu mengecewakan orang-orang? Ya sudahlah, aku berdo'a saja sembari tetap berusaha, Semoga Allah meletakkan cahaya itu ditanganku hingga hati ini dapat kembali menorehkan senyum.

Minggu, 05 Juni 2016

Senin, 06 Juni 2016

Aku sengaja menulis pagi-pagi sekali hari ini. Sudah dua hari jaringan parah, makanya selama dua hari itu pula aku tidak berbagi pada sahabat semua. Ada yang kurang rasanya, jadi kesepian.

Hari ini adalah hari pertama puasa 1437 H. Seperti tahun-tahun sebelumnya, satu hari sebelum 1 Ramadhan ada tradisi 'balimau' di daerahku. Orang-orang di setiap rumah membuat palimauan dari si harum (bunga-bungaan, daun pandan, dll) yang direndam dengan air. Air 'palimauan' itulah yang diletakkan di kepala. Aku juga tidak tau fungsinya, tapi melakukannya selalu mengingatkanku pada masa kecil. Waktu kecil, aku selalu menaruh bunga-bunga dari palimauan itu lebih banyak di kepala :).
Oh iya, dulu di tempat tinggalku bahkan ada orang-orang yang bersedekah limau (sadakah limau). Ramai anak-anak dan orang dewasa menyaksikannya. Sadakah limau itu terdiri dari, kue-kue, palimauan, beras rendang, dan yang menjadi favoritku adalah tebu tusuk (tebu yang ditusuk-tusuk seperti sate) ataupun tebu yang dimasukkan ke dalam daun pisang yang dibentuk seperti kerucut. Di kegiatan sadakah limau, anak-anak berebutan. Akh, indahnya masa kecil dalam tradisi aneh itu.

Sayang, kemarin aku tidak seperti biasanya. Tidak kurasakan semangat menggebu di hati. Bukannya tak bahagia menyambut datangnya bulan suci, namun kegelisahanku mencari cahaya belum juga usai.
Pas magrib aku baru mengunjungi ayah di pemakamannya. Membawakan air palimauan agar juga dapat kubasahi bebatuan makam itu. Di sana aku ingin sekali menangis, sahabat. Tenggorokanku tercekat. Aku merasa seperti anak bermasalah yang ingin bercerita, mengadu, dan meminta perlindungan pada ayahnya.

Ayah sudah lama tiada, jauh sebelum aku dapat memahami apa arti ketiadaan. Hari ini, aku berdiri di usia 25 tahun. Tahun ke 24 tanpa kehadiran seorang ayah. Aku tak perlu bersedih, hal yang sudah biasa kulalui dalam tahun-tahun yang kulewati.
Tepat 1 Ramadhan, maka ini adalah hadiah ulang tahun luar biasa yang diberikan Allah. Semoga di bulan penuh berkah ini dan bulan-bulan seterusnya, dapat kutingkatkan ibadahku kepada-Nya. Jujur saja, aku penasaran, rencana apa yang sudah disiapkan Tuhan di tahun ke-25 kehidupanku.

:) Selamat menunaikan ibadah puasa, sahabat. Minal aidin walfaidzin.

Kamis, 02 Juni 2016

Jum'at, 03 Juni 2016

Sudah berapa hari ini aku uring-uringan. Berjuang untuk menemukan titik-titik cahaya. Siang-siang menjadi petualangan yang tak diinginkan. Menjelang senja hingga jingga menggelap jadi pengusik ketenangan jiwa, membuat resah. Malam indahku berubah jadi penyakit. Menghadirkan isak-isak tertahan, tersembunyi air tangis berurai.
Aku tidak gila. Aku hanya gelisah, sebab sulit menemukan cahaya-cahaya yang kucari. Sia-siakah? Apa ini awal kekalahan?

Sebenarnya ini bukan tentang ketakutan akan sebuah kekalah. Perjalanan yang sedang kutempuh menahan takut tentang satu hal 'karena nila setitik rusak susu sebelanga'.
Jangan salah paham ya, sahabat. 'Nila' yang kumaksud bukanlah namaku, tetapi memang begitulah yang kuhadapi saat ini. Sebuah kesalahan yang dikhawatirkan akan berefek buruk.

Aku harap cahaya-cahaya itu segera menghadiahkan sinarnya. Aku rindu hari-hari indahku. Sungguh aku ingin pulang pada kedamaian. Menikmati hidup dengan caraku, bersama jalan yang diridhoi sang Maha Pemberi Jalan.

Rabu, 01 Juni 2016

Sebuah Catatan Harian

Assalamu'alaikum warohmatullahiwabarokatuh

Hari ini, aku ingin mulai berbagi cerita kepada sahabat. Semoga ini bisa menjadi penjalin silaturrahmi kita semua. :)